Ikatan Aktivitas Band Mahasiswa (IKABAMA)
Universitas Muhammadiyah Malang
Ikatan Aktivitas Band Mahasiswa (IKABAMA)
Universitas Muhammadiyah Malang

Sejarah

                Pendiri IKABAMA adalah Drs. Achmad Muchyi, MM. vocalist sekaligus guitarist ini mempunyai pengalaman yang banyak dalam bidang organisasi. Dari organisasi music, remaja masjid, teater, beladiri, senat, dll. Di tahun ’90an, beliau sudah menyandang status sebagai dosen di UMM, tepatnya di Fakultas Ekonomi.

Semenjak masih berstatus sebagai mahasiswa di salah satu Universitas Negeri di Malang, beliau sudah melirik music di UMM. Kala itu, band-band UMM sering menjuarai festival-festival music yang diselenggarakan dari kampus ke kampus hingga festival tingkat nasional. Saat itu beliau berfikiran, music di UMM akan lebih baik jika terorganisir dan terstruktur. Setelah beliau menjadi dosen di UMM, beliau merealisasikan apa yang yang menjadi angan-angannya saat itu. Awal pendekatan yang dilakukan oleh Pak Muchyi ini langsung pada Rektor UMM, Bapak Muhajir. Kebetulan beliau sedang mengontrol Mahasiswa yang sedang KKN di Madiun. “potensi music di kampus kita cukup bagus Pak, bagaimana kalau disediakan wadah untuk mahasiswa yang tertarik pada bidang music?” tawaran Bapak Muchyi. Rector menanggapi dengan senang akan hal itu karena sudah ada bukti, band-band UMM sering menang lomba dalam festival music.

Setelah itu, dikumpulkannya band-band yang ada di UMM, saat itu yang terkumpul ada 40 group band dari 9 fakultas, disitu (ruang 12, kampus 2) dirundingkanlah apa yang pas untuk menyatukan band-band yang ada di UMM. Masing-masing band mengajukan nama masing-masing, “kita ini buat nama ikatan musik, bukan nama band” ujar Pak Muchyi. Akhirnya tercetuslah IKABAMA (ikatan aktivitas band mahasiswa) yang mempunyai arti ikatan music mahasiswa.

Awalnya camp IKABAMA berada di luar kampus, tepatnya di Tlogo Mas. Karena sering memenangkan lomba music, IKABAMA dibuatkan tempat di kampus 3. Setelah itu, beberapa kali Pak Muchyi mengajukan permintaan alat band, berapa kali pula penolakan dialaminnya. Akhirnya alat dibelikan setelah 3 bulan kemudian. Tak tanggung-tanggung, rector membelikan alat yang bagus saat itu, sonor. Kala itu, alat standart nasional ini diperuntukkan untuk menunjang kemajuan music di IKABAMA.

Shared: